Tuesday, 19 October 2021

Kemuliaan Akhlak dan Keteladanan


SAAT negara ini juga bangsa-bangsa lain di dunia, kehilangan kepercayaan dan mengalami krisis kepemimpinan. Maka momentum peringatan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam, strategis bagi umat manusia termasuk rakyat Indonesia bisa memetik pelajaran dan mengambil hikmah dari kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam. Selain memiliki kedudukan spiritual yang tinggi.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam juga membangun sistem sosial yang menyeluruh termasuk aspek pemerintahan, ekonomi, politik, hukum dan pertahanan keamanan.

Nabi Muhammad juga pemimpin di dunia yang paling dapat dipercaya dan memiliki kemuliaan ahlak yang dibutuhkan untuk merubah peradaban manusia menjadi lebih baik.

12 Rabiul Awal 571 M, kelahiran seseorang di dunia yang kemudian perannya sangat menentukan peradaban manusia sepanjang zaman, bahkan setelah wafatnya di dunia. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam dengan segala keagungan sifat dan perbuatannya.

Tidak hanya berdakwah mensyiarkan Islam. Rasullulah juga telah menjadi figur dari kenyataan dan sejarah yang menjadi pelajaran penting bagi proses kehidupan manusia. Baik kehidupan manusia dengan sesamanya maupun hubungan manusia terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'Ala pemilik segala kebesaran dan kekuasaan yang mutlak.

Tahun ini bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 2021. Umat Islam sedunia kembali  berkhidmat pada peristiwa kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam. Sebuah momen penting bersejarah dan begitu menakjubkan bukan saja bagi kehidupan umat Islam, namun kepada semua manusia didunia beserta alam yang terhampar melingkupinya.

Rasullullah  satu-satunya manusia yang pernah hidup di bumi yang semua perkataan dan tindakannya menjadi manifestasi kebenaran yang bersumber dari Allah Subhanahu Wa Ta'Alla.

Seperti kitab suci Al Quran yang telah diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'Alla, yang menjadi pedoman hidup sebagai petunjuk dan pembeda terhadap yang hak dan batil pada  kehidupan manusia. Sikap dan perbuatannya merujuk pada Al Quran, bukan semata pada akal dan hawa nafsu.

Kehadiran Nabi Muhammad  Shallallahu Alaihi Wasalam juga menempatkannya sebagai pemimpin yang melalukan dekonstruksi sekaligus rekonstruksi nilai-nilai Ketuhanan dan kemanusiaan. Menjebol tradisi jahiliyah dan kesesatan hidup sejalan membangun nila-nilai tauhid dan sosial.

Tersirat menegaskan perannya yang kuat dalam menjelaskan relasi kekuasan Ilahi terhadap makhluknya. Tak ubahnya Al Quran yang mengangkat kisah para Nabi Allah sebelumnya, hingga Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam seperti menjadi representasi Al Quran.

Kehidupannya menjadi  sunah, seiring Al Quran yang berisi tuntunan dari Allah Subhanahu  Wa Ta 'Ala kepada seluruh umat manusia agar selamat dunia akhirat. Melalui Al Quran dan sunah, manusia akan dapat menemui Allah Subhanahu Wa Ta A'lla kelak.

Hikmah Maulid Nabi

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam pada tahun 2021 ini. Terasa begitu penuh makna dan emosional. Bukan saja  terhadap risalah perjuangan kenabiannya yang revolusioner dan mencerahkan peradaban manusia. Lebih dari itu perjuangan  Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam yang mengguncang dunia itu. Menunjukkan ketaatan dan loyalitas kepada Ketauhidan itu amat sangat berat. Penyerahan diri dalam penghambaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta 'Alla  seiring menyeru kepada kebenaran dan  memerangi yang mungkar.

Keringat, darah dan pengorbanan jiwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam beserta keluarga, para sahabat  dan umatnya yang istiqomah dalam menegakkan Dienul Islam, begitu dahsyat dan luar biasa. Mereka adalah generasi yang pernah ada pada zamannya, yang menukar seluruh kemanusiannya dengan keyakinan dan keimananya pada Allah Azza Wa Jalla demi keselamatan dunia dan akhirat. Tidak terjebak dan larut pada kehidupan dunia yang sejatinya hina dan penuh senda gurau.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi tanpa lelah mengajak seluruh umat di dunia untuk tidak mencintai dunia yang melalaikan manusia dan lebih menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat.  Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan kemurnian jiwanya tak pernah  berhenti memikirkan, bertindak dan mempertaruhkan hidupnya demi kepentingan dan kemaslahatan umat manusia. Sebuah karakter pemimpin yang mulia yang sangat sulit dijumpai setelah masanya.
Ketaqwaan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam telah menjadi contoh dan keteladanan bagi umat manusia, seperti yang dituangkan Al Quran dalam petikan surah Al Ahzab ayat 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

yang artinya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.

Melawan Jahiliyah Modern

Indonesia dalam hal ini para pemimpin dan rakyatnya. Sesegera mungkin harus mampu melakukan refleksi dan evaluasi terhadap perjalanan hidup kebangsaan. Kenapa sejauh ini sebagai sebuah negara yang bahkan sejak kelahirannya. Indonesia telah mengalami kerusakan sistem multidimensi dan tak pernah mencapai tujuan dari  cita-cita proklamasi kemerdekaan. Apa yang terjadi pada negara Indonesia? Secara substansi sistem yang ada telah menciptakan seburuk-buruknya sebuah negara bangsa di dunia.

Kebanyakan penyelengaraan negara jauh dari yang ideal. Negeri kaya tapi miskin rakyatnya. Negara hukum tapi telanjang menggunakan praktek tangan besi. Terkenal sebagai masyarakat religi namun berperangai mengabaikan Tuhan. Bangsa Indonesia bersama para pemimpinnya terus-menerus tak pernah bersyukur atas rahmat dan anugerah yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta A'la.

Dengan kekayaan alam yang berlimpah dan segala fasilitas yang tersedia untuk hidup sebagai sebuah negara bangsa yang adil dan makmur. Indonesia malah tak ubahnya seperti negara yang sengsara, rakyatnya hidup terbelakang dan penuh  penuh keterbatasan.

Bersandar dan menganut  ideologi-ideologi yang bersumber pada pemikiran manusia. Hasil pemikiran dan orientasi yang tentu saja  dipenuhi nafsu, ambisi dan keserakahan hidup. Membuat para pemimpin dan sebagian besar rakyat Indonesia. Bukan hanya kering spritualitasnya, lebih dari itu menjadikan agama terlebih Islam hanya sekedar formalitas dan simbol semata. Mengangkangi nilai-nilai kemanusiaan dan Ketuhanan. Menjadikan materi dan kepuasan dunia sebagai Tuhannya. Secara esensi tidak berbeda dengan binatang buas, merasa unggul dan ingin menguasai, saling memangsa, dan membunuh untuk kepuasannya sendiri.

Terlalu lama menghirup napas kapitalisme dan atheis yang menganut sistem liberal dan dan sekuler. Membuat bangsa Indonesia tidak hanya menjadi populasi penduduk yang mengejar materi, jabatan dan kepentingan kebendaan dunia lainnya. Lebih dari itu menjadikan mayoritas rakyat Indonesia telah mengalami pergeseran  dan pendangkalan aqidah.

Banyak para pejabat, tokoh dan yang menyandang  ulama sekalipun. Begitu murahnya menjual agama dan menggadaikan  aqidahnya dengan sesuatu yang rendah. Orang-orang seperti itu kian ramai dan perlahan tapi pasti telah keluar dari agama bahkan menjadi musuh agama. Menjual awidahnya demi kesenangan dunia.

Oleh karena itu, dengan banyaknya fenomena-fenomena proses dehumanisasi dan atheisme dalam kehidupan dunia, terlebih di Indonesia. Maka negeri ini menjadi masyarakat yang tatanan hidupnya  baik secara sosial politik, sosial ekonomi  dan sosial hukum tidak berbeda dengan sistem jahiliyah yang pernah ada di zaman Nabi Muhammad dan sebelumnya. Bangsa Indonesia seperti mengikuti siklus sejarah, kembali kepada masa lalu kehidupan yang identik dengan kebiadaban.

Maka menjadi sesuatu  yang alami dan menjadi tuntutan hidup bahwasanya rakyat Indonesia berhak dan harus mendapat kehidupan yang jauh lebih baik. Secara spiritual dan materil, lahir dan batiniah. Termasuk kembali kepada khitah kehidupannya yang hakiki. Meresapi dan dan menginsyafi keagamaannya. Membangun kehidupan religi yang bersandar pada nilai-nilai Islam yang kafah.

Bercermin dari yang pernah dilakukan dan dicontohkan Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam. In syaa Allah Dienul Islam sebagai agama Rahmatan lil A'lamin, memberikan jalan lurus bagi keselamatan umat manusia di dunia dan akherat.

Pemimpin  Indonesia sudah sepantasnya intropeksi terhadap kegagalan-kegagalan negara, pemerintahan dan sistem yang selama ini keluar dari ajaran Islam. Lagipula, penerapan syariat Islam itu hanya untuk umat Islam, bukan buat yang lain. Tidak berlaku bagi umat non muslim. Tidak ada pemaksaan bagi penganut agama lain mengikuti tata cara atau syariat Islam. Apalagi sampai menimbulkan permusuhan, kebencian  dan menciptakan konflik dalam menjalankan syariat Islam. Kenapa dibuat rumit dan polemik? Agamamu, agamaku, politikmu politikku, cara hidupmu cara hidupku.   

Kenapa  mengidolakan, merayakan kelahiran dan memperingati kematian tokoh-tokoh dunia kontemporer tidak pernah dipersoalkan?. Di sebagian belahan dunia, itu dilakukan sebagai bentuk peduli, kecintaan bahkan sebagai wujud fanatisme. Semua tidak masalah dan menimbulkan polemik.

Bagaimana dengan kelahiran dan perjuangan manusia agung dan mulia seperti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam?. Nabi sekaligus Rasul yang begitu besar jasa dan pengorbanannya bagi umat manusia di dunia. Pemimpin revolusi Islam yang dengan akhlaknya mampu merubah peradaban manusia. Dapatkah umat manusia  memetik pelajaran dan mengambil hikmahnya?

Pada akhirnya peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam. Dengan kemuliaan ahlak dan keteladanan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Salam. Idealnya bisa menjadi momentum dan kebangkitan umat Islam untuk kembali menghidupi jiwanya dengan Al Quran dan Sunah. Menghadirkan Islam sebagai tuntunan hidup dan memperbaiki ahlak manusia.

Insya Allah. Mari kita limpah curahkan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.

Allahumma Sholli Ala Muhammad.

Oleh: Yusuf Blegur*

(*Penulis adalah pegiat sosial dan aktifis Yayasan Human Luhur Berdikari)

Saturday, 16 January 2021

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

 Telah tampak kerusakan di muka bumi ini, dimana banyak pelaku maksiat dan kejahatan dimana-mana. Kejahatan/kemungkaran ini bisa terjadi di tempat rekreasi, tempat hiburan, hotel, penginapan, salon, kafe, bioskop, kampus dan sebagainya.

Pelakunya pun dari berbagai kalangan, baik secara individu, kelompok maupun dari penguasa. Kejahatan pun semakin modern dengan berbagi kemajuan teknologi membuat para pelaku kejahatan semakin ‘cerdas’ dalam melakukan aksinya.

Berbicara kemurkaan tidak hanya dalam perbuatan nyata, kadang kala tanpa disadari kemungkaran itu hadir lewat lisan, tulisan dan perbuatan yang tanpa disadari telah menyalahi aturan Sang Ilahi.

Tengoklah saat ini di media sosial, berapa banyak pihak yang tersakiti hatinya, karena komentar para nitizen. Kadang merasa paling benar sehingga berhak menghakimi perbuatan manusia lainnya tanpa didasari kapabilitas ilmu yang baik.

Maka, ketika terjadi pemisahan agama dalam kehidupan saat ini, aurat dipertontonkan di media sosial, berbagai cara dilakukan guna mencari ‘panggung sosial’ demi ketenaran sesaat. Untuk mencapai kepuasan duniawi ini, agama mereka pisahkan saat beraktivitas. Agama hanya sebagai indah ritual saja.

Amar Makruf Lebih Utama

Melihat fenomena ini jelas, aktivitas amar makruf nahi mungkar penting kita lakukan. Karena dengan berjalannya amar makruf ini akan banyak keutamaan yang didapat. Sebagaimana Firman Allah SWT, “Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (TQS at-Taubah [9]: 71). Juga dapat di lihat di dalam Al Qur’an Ali Imran (3) ayat 110.

Berkaitan dengan ayat tersebut, Imam Ahmad rahimahulLah meriwayatkan hadis dari Durrah binti Abu Lahab yang berkata: pernah ada seseorang berdiri menghadap Nabi saw. Ketika itu beliau berada di mimbar. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik?” Beliau bersabda, “Manusia terbaik adalah yang paling hafal al-Quran, paling bertakwa kepada Allah, paling giat melakukan amar makruf nahi mungkar dan paling rajin bersilaturahmi di antara mereka.” (HR Ahmad).

Dari penjelasan di atas, kita memahami bahwa selama tatap berpegang teguh dan menjaga amar makruf nahi mungkar insyaallah, umat Islam akan menjadi umat terbaik. Namun, bila aktivitas amar makruf nahi mungkar ini ditinggalkan maka kemuliaan dalam diri kaum muslim akan lenyap.

Oleh karena itu, aktivitas Amar Makruf nahi mungkar jangan sampai di tinggalkan, sebab akan mendatangkan azab-Nya bagi seluruh umat manusia. Sebagai mana Rasulullah Saw. Bersabda “Sungguh manusia itu, jika melihat kemungkaran, kemudian mereka tidak mengubah kemungkaran itu (menjadi kemakrufan), dikhawatirkan Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semuanya.” (HR Ibn Majah).

Maka umat Islam wajib melakukan amar makruf nahi mungkar, terhadap siapa pun baik individu, kelompok atau penguasa. Agar terhindar dari siksaan dan murka-Nya. Pun dengan melalaikan amar makruf nahi mungkar bisa menjadi penyebab tidak terkabulnya doa, Rasulullah Saw. Bersabda: “Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar melakukan amar makruf nahi mungkar atau (jika tidak) niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksaan kepada kalian (karena keengganan kalian tersebut). Lalu kalian berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR at-Tirmidzi).

Dari hadis di atas menjelaskan bahwa kewajiban amar makruf nahi mungkar adalah wajib bagi setiap Muslim. Juga memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak melakukan amar makruf nahi mungkar, akan mendapatkan hukuman, bisa jadi doa yang mereka panjatkan tidak dikabulkan Allah SWT.

Sabar menghadapi Onak dan Duri

Aktivitas amar makruf nahi mungkar yang dijalankan pasti menghadapi onak dan duri. Maka dibutuhkan kesabaran dan Istiqamah dalam mengarunginya. Dengan niat yang ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT itu menjadi kunci kesabaran dan Istiqamah.

Tanamkan dalam diri bahwa setiap apa yang telah Allah wajibkan insyaallah akan ada kebaikan dan manfaat bagi umat Muslim. Pun setiap apa yang dilarang Allah pasti ada keburukan dan kemadaratan.

Setiap ujian datang, keimanan kepada Allah akan menjadi penyemangat dalam terus berjalan melakukan amar makruf nahi mungkar. Yakin akan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berjuang dengan penuh keberanian tanpa ragu dan takut dalam menghadapi rintangan dakwah.

Semoga setiap usaha yang telah dilakukan dalam amar makruf nahi mungkar, dapat menjadi hujjah di hadapan Allah SWT. Semoga aktivitas ini terus ada dalam diri setiap Muslim sehingga kemaksiatan tidak merajalela.

Wallahu a’lam.

Hani Handayani
Tinggal di Pangkalan Balai, Banyuasin III.

https://suaraislam.id/

Saturday, 25 April 2020

Rahasia Ibadah Puasa dan Pemimpin

Ada sebuah keistimewaan dalam berpuasa. Allah SWT menyebutkan keistimewaan itu dalam sebuah hadits qudsi. “Puasa itu untuk-Ku, maka Akulah yang akan membalasnya,” demikian ujar Rasulullah SAW dalam hadits qudsi. Para ulama menyebutkan pernyataan Allah ini terkait dengan kerahasiaan dan keistimewaan ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah lainnya.
Dari segi rukun, puasa ini hanya memiliki dua rukun saja, yaitu niat dan menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Pun demikian, dari segi durasi waktu pelaksanaan, puasa adalah yang paling panjang dari ibadah-ibadah lainnya, termasuk juga ibadah haji.
Apa keistimewaan ibadah puasa ini? Dibandingkan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat lahiriah dan terukur secara kasat mata seperti shalat, haji, dan zakat, maka puasa tidak bias dinilai secara kasat mata, hanya Allah dan pelakunya saja yang bias memberikan penilaian apakah puasanya ini sudah benar atau tidak benar.
Pada bulan Ramadhan yang mulia ini kita bias berasumsi bahwa setiap muslim yang baligh pasti sedang menjalankan ibadah puasa, karena memang merupakan suatu kewajiban. Akan tetapi, di luar Ramadhan, kita tidak bias menebak apakah seseorang berpuasa atau tidak.
Begitu istimewanya kerahasiaan puasa, sampai-sampai di surga Allah menyediakan pintu al-Rayyan, khusus bagi mereka yang berpuasa. Dikabarkan bahwa para malaikat yang menjaga surga terheran-heran karena tiba-tiba saja ada yang sudah memasuki surge tanpa sepengetahuan mereka. Ketika ditanyakan bagaimana orang-orang ini memperoleh keutamaan memasuki surga secara rahasia, mereka menjawab “ini adalah kemurahan Allah bagi kami yang beribadah secara rahasia di dunia,” maksudnya berpuasa.
Kenapa rahasia? Terlepas dari kenyataan bahwa semua amal ibadah yang dianjurkan memiliki makna pendidikan secara lahiriah dan batiniah, maka secara spesifik ibadah puasa mendidik jiwa manusia untuk menjauhi kecendrungan-kecendrungan duniawinya. Siapa yang lebih mengetahui kecendrungan duniawi ini selain Allah dan tiap-tiap individu itu sendiri?
Secara umum, kecendrungan duniawi itu adalah makan-minum dan berhubungan badan. Tentu saja ini sudah bukan rahasia, maka dengan sendirinya tidaklah menjadi tujuan utama dari ibadah puasa itu sendiri. Yang masih menjadi pertanyaan adalah, masih adakah kecendrungan-kecendrungan duniawi lainnya pada diri kita yang patut untuk ditahan, dicegah, bahkan ditangkal?
Untuk memudahkan pemahaman, mari kita perhatikan bagaimana Imam Ghazali membagi puasa pada tiga level, yaitu puasa ‘am, puasa khas, dan puasa khawasul-khawas.
Pertama, puasa ‘am, yaitu puasa yang hanya sebatas tidak minum, tidak makan dan tidak berhubungan badan; Kedua, puasa khas, yaitu selain menahan ketiga perbuatan tadi ditambah juga dengan mencegah anggota badan dari melihat, mendengar, dan berkata-kata yang buruk; dan yang ketiga sekaligus tertinggi adalah puasa khawasul-khawas, yakni selain melakukan semua hal dalam puasa ‘am dan khas tadi, juga harus mengelola emosi dan sikap mental dari segala hal yang destruktif, seperti dengki, iri hati, konsumtif, anarkis, dan lain-lain.
Nabi Saw bersabda “Betapa banyak orang yang berpuasa, tiada yang diperoleh dari puasanya kecuali lapar dan haus saja.” Tentu saja kita bias memahami bahwa yang ditegur oleh hadist ini adalah mereka yang mencukupkan dirinya pada level ‘am saja.
Makna lain dari kerahasiaan ibadah ini adalah kejujuran. Jika kita menerapkan konsep Imam Ghazali di atas pada makna kejujuran ini, maka yang dimaksud adalah tidak hanya kejujuran pada level ‘am saja, tapi juga kejujuran pada level khas dan khawasul-khawas. Dengan kualitas kejujuran ini, diharapkan seorang shaaim tidak hanya memperoleh sertifikat rahmat semata-mata, tapi juga sertifikat maghfirah (ampunan) dan itqun-minannar (terbebas dari siksa neraka).
Sekali lagi, hal ini bisa dicapai karena kejujuran pribadi muslim akan kecenderungan-kecenderungan negatif yang ada pada dirinya akan mendorong lahirnya sikap korektif, evaluatif, dan juga pertobatan yang sungguh-sungguh.
Maka, kalau kita lihat hasil kepribadian yang dilahirkan dari puasa ini, sangat erat kaitannya dengan pribadi pemimpin yang juga memastikan sukses atau tidaknya amanah kepemimpinan yang diusung. Kita semua adalah pemimpin, sesuai levelnya masing-masing. Pemimpin masyarakat, pemimpin keluarga, pemimpin di rumah atau juga pemimpin sebuah Negara.
Hubungan puasa dan kepemimpinan ini misalnya dapat kita lihat pada pribadi Nabi Dzulkifli ‘as, pribadi Nabi Daud as, pribadi Nabi Muhammad Saw dan juga para sahabat yang utama. Nabi Dzulkifli diangkat sebagai Raja dan Nabi sekaligus dengan syarat wajib berpuasa setiap harinya dan qiyamullail setiap malamnya. Dzulkifli artinya yang sanggup memikul syarat-syarat kepemimpinan.
Nabi Daud yang gagah perkasa dan adil bijaksana, terkenal dengan puasanya sehari berselang, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, demikian terus menerus hingga akhir hayatnya. Dan Nabi kita Muhammad Saw juga terkenal dengan ibadah puasanya, sampai-sampai beliau mengikat tali ke perutnya di luarRamadhan. Bukan karena tidak ada makanan sama sekali, melainkan sebagai pendidikan bagi ummatnya, khususnya para pemimpin.
Teladan nabi ini diikuti oleh para sahabat, khususnya khulafaur-rasyidin seperti Abubakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka menjadikan puasa sebagai atribut dan lambing kepemimpinan, sehingga rakyatnya hidup makmur dalam kesejahteraan dan keadilan.
Pemimpin yang tidak terbiasa berpuasa, tidak akan mampu mengendalikan jiwa dan perilakunya. Tidak dapat bertahan dalam kehidupan yang sulit. Tidak bisa tegas menentukan keputusan, karena jiwa dan pikirannya masih digantungkan banyak kepentingan. Tidak mampu melihat jernih persoalan, karena hatinya diliputi oleh rasa iri, dengki, ujub, sombong, dan lain sebagainya. []
SUMBER: IKADI

Friday, 10 April 2020

Inilah 9 Amalan Penolak Bala'


Sahabatku, Ketahuilah.. Bahwa ada 9 Amalan yang bermanfaat untuk menolak Bala'.. Inilah diantara jalan tolak bala bencana yang telah Allah tunjukkan melalui Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW:
1. Berdoa, رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

"Ya Rabbana jangan uji kami diluar batas kemampuan kami (QS Al Baqoroh 286).

2. Kesungguhan Taqwa.

"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya... Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS Ath Tholaq 2-4)

3. Ridho orang tua, “Keridhaan Tuhan ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Tuhan ada pada kemurkaan orang tua” (HR Tirmidzi).

4. "Sedekah itu menolak bala" demikian sebuah bunyi hadits dari Rasulullah.

5. Banyak Istighfar, "Kami tidak akan turunkan adzab bencana selama mereka masih beristighfar" (QS Al Anfal 33).

6. Silturrahmi, “Barang siapa yg senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yg buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

7. Selalu dzikir dan sholawat, "Petir menyambar kafir juga mu'min tetapi petir tidak akan menyambar orang beriman yang sedang berdzikir,

8. Hobby berbuat baik dan beramal shalih,

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ

"Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS Ar Rahman 60).

9. Taubat nashuhan, bertaubat sungguh sungguh (QS At Taubah 126).

Semoga Allah senantiasa melindungi kita, keluarga kita dan seluruh kaum muslimin dari berbagai bala' dan bencana... Aamiin


sumber:kabarmakkah.com

Friday, 28 February 2020

11 Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Menurut Habib Umar bin Hafidz

Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Di dalamnya banyak keutamaan yang sayang jika dilewatkan. Maka sebagai Muslim, hendaknya untuk tidak menyia-nyiakan keutamaan bulan yang sangat mulia ini.
Menurut Habib Umar bin Hafidz, dikutip dari akun Instagram @habibumar_indonesia, Selasa (25/2/2020) ada 11 keutamaan bulan Rajab serta amalan yang hendaknya dilakukan:
Pertama:
كثرة الاستغفار وتحقيق التوبة النصوح
Perbanyak membaca Istighfar dan bertaubat dengan sebenar benarnya taubat.
Kedua:
العزم الصادق في الإقبال على الله بفعل الطاعات، وترك المعاصي والمخالفات.
Kesungguhan di dalam mengejar ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan ketaatan, dan meninggalkan kemaksiatan yang dilarang Allah.
Ketiga:
النظر في أحواله وإصلاحها وإقامتها على منهج المتابعة للنبي محمد صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم
Menginterospeksi keadaan dirinya kemudian memperbaikinya serta membangun kehidupannya di atas peneladanan Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa ala alihi wa sohbihi wa sallam.
Keempat:
تفقُّد شأنه في الفرائض وكيفية أدائها وسننها ورواتبها وحضور القلب فيها.
Memperhatikan keadaan dirinya dalam menjalankan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya secara detail dan di dalam menjalankan sunnah-sunnah serta rawatib, dan memperhatikan kehadiran hatinya di dalam menjalankan semua itu.
Kelima:
الحرص على الصف الأول في الجماعة، والحرص على التكبيرة الأولى مع الإمام فلا تفوته.
Berusaha untuk selalu shalat berjamaah di shaf pertama dan berusaha untuk selalu mendapatkan takbiratul ihram setelah imam.
Keenam:
أن يتفقد نفسه في القرآن ونصيبه من تلاوته وتدبره، والحرص على العمل بما فيه.
Hendaknya memiliki saham yang besar di dalam membaca Al-Quran, mentadabburi ayat-ayatnya, serta dalam mengamalkan tuntunannya.
Ketujuh:
المحافظة على الأذكار في الصباح والمساء وبعد الصلوات، وفي الأحوال المختلفة.
Merutinkan pembacaan dzikir di pagi dan sore hari dan dzikir seusai shalat lima waktu.
Kedelapan:
أن يتفقَّد نفسه في المعاملة مع الأهل والأصحاب والأصدقاء والأقارب والجيران، ومع عامة الخلق وخاصتهم.
Memperhatikan dirinya dalam bergaul yang baik dengan rumah tangga, sahabat, teman, keluarga, tetanggga dan kepada seluruh mahluk.
Kesembilan:
صيام ما تيسر من أيام الشهر، وخصوصا الاثنين والخميس والأيام البيض.
Berpuasalah di bulan ini, khususnya dihari Senin dan Kamis, dan juga di Ayyamul Bhidh (13, 14, 15 di bulan Hijriah).
Kesepuluh:
أن يكون له نصيب من الصدقات والتفقُّد للفقراء والمساكين، والإحسان إليهم.
Hendaknya memiliki saham besar dalam bersedekah dan memenuhi hajat orang-orang faqir dan miskin, dan berbuat baik kepada mereka.
Kesebelas:
اغتنام هذه الليالي في العبادة، خصوصا وقت السحر، فينبغي في مثل هذا الشهر أن يكون له حال حسن في المعاملة مع السحر، ليدخل في دائرة من أثنى عليهم الرب الأكبر في القرآن بالاستغفار في الأسحار، قال تعالى ( وبالأسحار هم يستغفرون) وقال سبحانه وتعالى: ( والمنفقين والمستغفرين بالأسحار ) وقال تعالى ( إنهم كانوا قبل ذلك محسنين كانوا قليلا من الليل ما يهجعون وبالأسحار هم يستغفرون ).
Hendaknya mengambil kesempatan emas dimalam malam bulan rajab ini untuk beribadah, khususnya di waktu akhir malam, maka alangkah baiknya jika di bulan ini kita berada di dalam keadaan yang mulia disaat akhir malam.
Di mana Allah berfirman: -(dan di saat sahar (akhir malam) mereka meminta pengampunan)- dan Allah juga berfirman: -(orang yang selalu menginfakkan hartanya dan yang meminta pengampunan di malam hari)-, dan Allah juga berfirman -(Sesungguhnya mereka sebelumnya adalah orang orang yang baik, yang sedikit dari malam-malamnya tertidur dan di malam hari selalu beristgfar meminta pengampunan Allah)-.
نسأل الله أن يوفر حظنا من هذه الليالي وهذا الشهر، وأن يجعلنا من المقبولين المسعودين في الدنيا والآخرة.
Kami memohon kepada Allah untuk memberikan bagian besar dari kemuliaan malam-malam bulan yang mulia ini, dan menjadikan kita dari hamba-hamba yang diterima ibadahnya dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Wallahu A’lam bish Shawab..

Monday, 10 June 2019

Pemimpin yang Memperdulikan Sholat Kaum Muslimin

Dalam Islam seorang pemimpin bertanggungjawab tegaknya syariat Islam di wilayah kepemimpinannya. Kepeduliannya terhadap tegaknya syariat akan memberi pengaruh kuat bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan para pemimpin modern yang memasukka urusan sholat dan ibadah lainnya hanya pada urusan privat. Pemimpin tidak berhak intervensi dalam masalah sholat dan iabdah lainnya. Perannya hanya sebatas memberikan kebebasan beribadah kepada agama apapun. Paradadigma seperti ini adalah dampak dari sekulerisme yang menaruh agama pada wilayah privat.

Dalam urusan shalat jamaah misalnya, masyarakat Islam akan lebih peduli dengan shalat jamaah bila ada keteladanan dan perhatian khusus dari seorang pemimpin. Kondisi seperti ini menjadi alasan kuat mengapa perhatian para salafus shalih  terhadap shalat jamaah begitu kuat. Sebagai contoh kita dapati Amirul Mukminin Umar bin Khaththab mengancam akan memberikan hukuman bagi siapa yang meninggalkan shalat.

Tsabit bin Al-Hajjaj berkata, “Suatu ketika, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar hendak melaksanakan shalat. Lalu ia menghadap orang-orang dan memerintahkan muazin. Ia berdiri seraya berkata, ‘Demi Allah, tidak ada seorang pun yang kita tunggu lagi.’  Tatkala ia selesai shalat, ia kembali menghadap orang-orang kemudian berkata, ‘Mengapa banyak orang yang meninggalkannya (shalat berjamaah), sehingga yang lain ikut-ikutan meninggalkannya? Demi Allah, sungguh aku berniat mengirim utusan kepada mereka untuk menebas leher mereka!’ Lalu dikatakan, ‘Hadirilah shalat jamaah’.” (Kanzul ‘Ummâl: VIII/252)

Demikian pula Umar Al-Faruq menginspeksi orang-orang dalam shalat jamaah. Imam Malik meriwayatkan dari Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Hatsmah bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah mencari Sulaiman bin Abi Hatsmah ketika shalat Subuh. Keesokannya, Umar bin Khaththab pergi ke pasar sedangkan tempat tinggal Sulaiman bin Abi Hatsmah terletak di antara pasar dan masjid Nabawi. Ketika ia melintas di hadapan Asy-Syifa’, ibu Sulaiman, ia berkata padanya, “Aku tidak melihat Sulaiman ketika shalat Subuh tadi.” Ibunya lantas menjawab, “Tadi malam, ia shalat sepanjang malam lalu tertidur lelap.” Umar kemudian berkata, “Shalat Subuh berjamaah lebih kusukai daripada aku shalat malam semalam suntuk.”(Al-Muwaththa’: I/131)

Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Hasyim bahwa bapaknya berkata, “Suatu ketika, Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mencari seseorang yang tidak hadir dalam shalat Subuh. Kemudian ia mengirim seorang utusan kepadanya. Tatkala orang tersebut dihadapkan, ia berkata, ‘Di mana saja engkau?’ Orang tersebut menjawab, ‘Aku sedang sakit. Sekiranya bukan utusanmu yang membawaku kemari, niscaya aku tidak keluar.’ Umar lalu berkata, ‘Jika engkau mampu keluar untuk menemui seseorang, maka keluarlah untuk shalat.’ (Al-Mushannaf: I/344-345)

Perhatian Al-Faruq terhadap shalat jamaah tampak pula tatkala ia menyuruh seseorang untuk menuntun orang yang buta supaya ia tetap datang ke masjid. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Al-Miswar bin Makhramah berkata, “Suatu ketika, Umar radhiyallahu ‘anhu pergi ke rumah Sa’id bin Yarbu’ untuk menghiburnya lantaran matanya buta. Ia kemudian berkata, ‘Jangan engkau tinggalkan shalat jamaah di masjid Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam,’ Sa’id menjawab, ‘Tapi aku tidak mempunyai seorang penuntun.’ Umar kembali berkata, ‘Kalau begitu, kami akan mengirim seorang penuntun kepadamu.’ Maka dikirimlah seorang hamba sahaya dari tawanan kepadanya.”(Kanzul ‘Ummâl: VIII/307)

Kita dapati pula riwayat tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang berjalan seraya berseru, “Shalat, shalat.” Ia bermaksud membangunkan orang-orang untuk shalat Subuh. Ia melakukan hal itu setiap hari. Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu bercerita kepada kami tentang keluarnya Ali pada hari ketika ia ditikam. Ia berkata, “Tatkala ia keluar dari pintu, ia berseru, ‘Wahai sekalian manusia! Shalatlah, shalatlah’.” Demikianlah yang dilakukannya setiap hari. Ia keluar membawa cemetinya seraya membangunkan orang-orang. Kemudian ia dihadang oleh dua orang …. (Ath-Thabaqât Al-Kubra: III/36-37)

Sedangkan amir Mekah yang diangkat oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ‘Attab bin Usaid Al-Umawi radhiyallahu ‘anhu mengancam akan membunuh siapa pun yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa ia pernah berbicara kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah! Demi Allah, tidak ada kabar yang sampai kepadaku bahwa salah seorang dari kalian meninggalkan shalat jamaah di masjid, kecuali aku akan membunuhnya.” (Kitab Ash-Shalâh hal. 81. Lihat juga Ghâyatul Marâm bi Akhbâri Sulthanati Al-Baladil Harâm: I/18-19). Imam Ibnul Qayyim menuturkan, “Para shahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berterima kasih kepadanya atas tindakannya tersebut dan kemuliaannya semakin bertambah di mata mereka.” (Kitab Ash-Shalâh hal. 81)

Demikianlah salah satu alasan mengapa syariat Islam menaru perhatian besar dalam memilih pemimpin. Sebab, keberadaannya tidak hanya berfungsi menyelesaikan problem masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan di dunia. Tapi lebih dari itu, seorang pemimpin juga bertanggungjawab membawa rakyatnya untuk meraih kebahagian di akhirat kelak.

Sumber: Buku “Fadhilah shalat berjamaah” Karya Fadhl Ilahi, Penerbit; Aqwam Solo

Saturday, 27 April 2019

Mengenal Masyarakat Jahiliyah Bersama Sayyid Quthb

Masyarakat jahiliyah seringkali diartikan sebagai masyarakat yang masih tertutup kebodohan. Dan ketika ditanya perihal contoh, sebagaian besar kita pasti menjawab masyarakat Arab pra-kenabian. Namun bila kita renungkan dan kita pelajari, masyarakat Arab pra-kenabian sejatinya juga tidak bisa dikatakan bodoh (bodoh dalam definisi kekinian tentunya). Masyarakat Arab pra-kenabian khususnya suku Quraisy justru termasuk yang maju pada zaman itu khususnya dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Jadi bagaimana sebenarnya pengertian masyarakat jahiliyah? Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi Ath-Thariq memberikan dua batasan mengapa sebuah masyarakat dikatakan jahiliyah. Batasan pertama, bahwa masyarakat jahiliyah adalah setiap masyarakat selain masyarakat muslim. Lalu batasan kedua, setiap masyarakat yang tidak memurnikan penghambaannya kepada Allah semata. Penghambaan ini terejawantahkan dalam konsepsi teologis, ritual-ritual ibadah, dan dalam peraturan perundang-undangan.

Pendapat Sayyid Quthb tersebut tentu kontradiktif dengan pendapat sebagian ulama yang mendefinisikan masyarakat jahiliyah sebagai masyarakat pra-kenabian, sehingga pasca kenabian tak ada lagi masyarakat jahiliyah. Definisi ala Sayyid Quthb tampaknya lebih universal, dalam artian berlaku di segala ruang dan waktu.

Sehingga ada kemungkinan atau bahkan kepastian akan adanya masyarakat jahiliyah di setiap zaman. Bisa jadi itu adalah masyarakat di samping kanan kita, kiri kita, depan kita,  atau bahkan masyarakat yang kita sedang menjadi bagian di dalamnya.
Selanjutnya, Sayyid Quthb membagi masyarakat jahiliyah dalam empat kelompok dimana masing-masing mempunyai sebab dan tingkat kejahiliyahan yang berbeda.
Kelompok pertama adalah masyarakat komunis. Penyebabnya adalah -tentu saja- pengingkaran penuh mereka atas eksistensi Allah SWT. Masyarakat komunis meyakini bahwa kekuatan kendali alam semesta ini berasal dari benda atau alam itu sendiri, mereka juga meyakini bahwa kendali atas kehidupan manusia serta sejarahnya berpangkal pada persoalan ekonomi serta alat-alat produksi semata. Masyarakat komunis juga membangun tatanan ketundukan hanya terhadap partai saja, jadi sudah pasti mereka tidak tunduk kepada Allah SWT.

Komunisme telah membawa manusia pada pemahaman bahwa kebutuhan manusia hanyalah sebatas kebutuhan-kebutuhan hidup seperti sandang, papan, pangan, dan pemenuhan hasrat seksual. Komunisme menafikan kenyataan bahwa manusia mempunyai kebutuhan spiritual, sesuatu yang akan membedakan manusia dengan binatang atau lebih tepatnya sesuatu yang membuat manusia bisa disebut manusia. Sebagai makhluk spiritual, di samping membutuhkan kepercayaan kepada Tuhan, manusia juga membutuhkan aturan-aturan Tuhan, yang akan memberinya rambu-rambu serta batasan dalam mengekspresikan jati dirinya di muka bumi ini.

Kelompok kedua adalah masyarakat paganis. Konsep teologis masyarakat paganis selalu berasaskan penuhanan selain Allah, terkadang mereka menyembah Allah SWT tetapi menyekutukannya bersama berhala rekaan mereka dalam ritual peribadatan. Namun tak jarang mereka menafikan keberadaan Allah SWT lalu memuja berhala-berhala yang mereka ciptakan sendiri. Mendedikasikan ritual peribadatan kepada segala sesuatu –selain Allah- yang diklaim memiliki unsur ketuhanan adalah trademark masyarakat paganis.

Lalu yang ketiga adalah masyarakat Yahudi dan Nasrani di seluruh penjuru bumi. Dikategorikan demikian karena konsepsi teologisnya telah mengalami distorsi. Konsepsinya tidak lagi mengesakan Allah SWT, mereka merekayasa adanya sekutu bagi-Nya dalam salah satu bentuk syirik, entah dalam konsep Tuhan mempunyai anak ataupun dalam konsep trinitas. Ada juga yang menggambarkan Allah dengan ilustrasi yang tidak semestinya, dan ada pula yang menggambarkan hubungan Khaliq-makhluk tidak dengan pola yang sebenarnya.

Allah SWT menyinggung perilaku mereka dalam beberapa ayat,
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (QS At Taubah: 30).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS Al Maidah: 73).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu, “sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS Al Maidah: 64).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS. Al-Maidah : 18).

Selain itu, tata aturan serta perundangan mereka sudah tidak lagi berdasar pada penghambaan kepada Allah SWT semata, mereka tidak menyatakan bahwa otoritas memerintah hanyalah kepunyaan Allah saja. Mereka justru mendirikan lembaga-lembaga berisi para rahib serta pendeta, dan memberi mereka otoritas tertinggi untuk mengatur kehidupan mereka. Mereka akan melaksanakan apapun keputusan rahib serta pendeta meski mereka mengetahui bahwa keputusan tersebut tidak sesuai dengan syariat Allah SWT. Memang, dalam dunia kekristenan sempat terjadi gerakan yang meruntuhkan otoritas pendeta yang kebablasan tersebut, namun setelahnya mereka justru bertindak lebih fatal, karena memberikan otoritas tertinggi kepada kalangan bukan pendeta, yang malah lebih jauh dari ajaran-ajaran suci Injil mereka.

Kelompok yang terakhir, adalah komunitas-komunitas yang mengaku sebagai masyarakat muslim. Masyarakat ini dikategorikan demikian bukan karena mereka meyakini ketuhanan seseorang selain Allah, bukan pyula karena mendedikasikan ritual peribadatan kepada selain Allah SWT.

Tetapi, karena mereka tidak menjalankan penghambaan kepada Allah semata dalam tatanan kehidupan mereka. Sehingga, meski dalam berkeyakinan tidak menyekutukan Allah SWT, tetapi -entah sadar ataupun tidak- mereka telah menyematkan otoritas ketuhanan paling hakiki kepada selain Allah. Mereka tunduk pada kekuasaan selain Allah, menerima sistem yang diterapkannya, peraturan-peraturannya, nilai-nilainya, pertimbangan-pertimbangannya, tradisi-tradisi, adat-istiadat, serta segala hal yang menunjang kehidupan mereka.

Sebagai seorang muslim, yang menjalani keseharian dengan spirit bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik lagi, tentu penjelasan Sayyid Quthb mengenai masyarakat jahiliyah di atas perlu menjadi bahan muhasabah, perlu menjadi bahan renungan, sudahkah kita terbebas dari kejahiliyahan, atau lebih tepatnya, sudah seberapa jauh kita dari kejahiliyahan?!

Penulis: Rusydan Abdul Hadi (kiblat.net)