i-Masjid Ponorogo
Membangun Peradaban Umat
Tuesday, 19 October 2021
Kemuliaan Akhlak dan Keteladanan
Saturday, 16 January 2021
Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Telah tampak kerusakan di muka bumi ini, dimana banyak pelaku maksiat dan kejahatan dimana-mana. Kejahatan/kemungkaran ini bisa terjadi di tempat rekreasi, tempat hiburan, hotel, penginapan, salon, kafe, bioskop, kampus dan sebagainya.
Pelakunya pun dari berbagai kalangan, baik secara individu, kelompok maupun dari penguasa. Kejahatan pun semakin modern dengan berbagi kemajuan teknologi membuat para pelaku kejahatan semakin ‘cerdas’ dalam melakukan aksinya.
Berbicara kemurkaan tidak hanya dalam perbuatan nyata, kadang kala tanpa disadari kemungkaran itu hadir lewat lisan, tulisan dan perbuatan yang tanpa disadari telah menyalahi aturan Sang Ilahi.
Tengoklah saat ini di media sosial, berapa banyak pihak yang tersakiti hatinya, karena komentar para nitizen. Kadang merasa paling benar sehingga berhak menghakimi perbuatan manusia lainnya tanpa didasari kapabilitas ilmu yang baik.
Maka, ketika terjadi pemisahan agama dalam kehidupan saat ini, aurat dipertontonkan di media sosial, berbagai cara dilakukan guna mencari ‘panggung sosial’ demi ketenaran sesaat. Untuk mencapai kepuasan duniawi ini, agama mereka pisahkan saat beraktivitas. Agama hanya sebagai indah ritual saja.
Amar Makruf Lebih Utama
Melihat fenomena ini jelas, aktivitas amar makruf nahi mungkar penting kita lakukan. Karena dengan berjalannya amar makruf ini akan banyak keutamaan yang didapat. Sebagaimana Firman Allah SWT, “Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (TQS at-Taubah [9]: 71). Juga dapat di lihat di dalam Al Qur’an Ali Imran (3) ayat 110.
Berkaitan dengan ayat tersebut, Imam Ahmad rahimahulLah meriwayatkan hadis dari Durrah binti Abu Lahab yang berkata: pernah ada seseorang berdiri menghadap Nabi saw. Ketika itu beliau berada di mimbar. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik?” Beliau bersabda, “Manusia terbaik adalah yang paling hafal al-Quran, paling bertakwa kepada Allah, paling giat melakukan amar makruf nahi mungkar dan paling rajin bersilaturahmi di antara mereka.” (HR Ahmad).
Dari penjelasan di atas, kita memahami bahwa selama tatap berpegang teguh dan menjaga amar makruf nahi mungkar insyaallah, umat Islam akan menjadi umat terbaik. Namun, bila aktivitas amar makruf nahi mungkar ini ditinggalkan maka kemuliaan dalam diri kaum muslim akan lenyap.
Oleh karena itu, aktivitas Amar Makruf nahi mungkar jangan sampai di tinggalkan, sebab akan mendatangkan azab-Nya bagi seluruh umat manusia. Sebagai mana Rasulullah Saw. Bersabda “Sungguh manusia itu, jika melihat kemungkaran, kemudian mereka tidak mengubah kemungkaran itu (menjadi kemakrufan), dikhawatirkan Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semuanya.” (HR Ibn Majah).
Maka umat Islam wajib melakukan amar makruf nahi mungkar, terhadap siapa pun baik individu, kelompok atau penguasa. Agar terhindar dari siksaan dan murka-Nya. Pun dengan melalaikan amar makruf nahi mungkar bisa menjadi penyebab tidak terkabulnya doa, Rasulullah Saw. Bersabda: “Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar melakukan amar makruf nahi mungkar atau (jika tidak) niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksaan kepada kalian (karena keengganan kalian tersebut). Lalu kalian berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR at-Tirmidzi).
Dari hadis di atas menjelaskan bahwa kewajiban amar makruf nahi mungkar adalah wajib bagi setiap Muslim. Juga memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak melakukan amar makruf nahi mungkar, akan mendapatkan hukuman, bisa jadi doa yang mereka panjatkan tidak dikabulkan Allah SWT.
Sabar menghadapi Onak dan Duri
Aktivitas amar makruf nahi mungkar yang dijalankan pasti menghadapi onak dan duri. Maka dibutuhkan kesabaran dan Istiqamah dalam mengarunginya. Dengan niat yang ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT itu menjadi kunci kesabaran dan Istiqamah.
Tanamkan dalam diri bahwa setiap apa yang telah Allah wajibkan insyaallah akan ada kebaikan dan manfaat bagi umat Muslim. Pun setiap apa yang dilarang Allah pasti ada keburukan dan kemadaratan.
Setiap ujian datang, keimanan kepada Allah akan menjadi penyemangat dalam terus berjalan melakukan amar makruf nahi mungkar. Yakin akan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berjuang dengan penuh keberanian tanpa ragu dan takut dalam menghadapi rintangan dakwah.
Semoga setiap usaha yang telah dilakukan dalam amar makruf nahi mungkar, dapat menjadi hujjah di hadapan Allah SWT. Semoga aktivitas ini terus ada dalam diri setiap Muslim sehingga kemaksiatan tidak merajalela.
Wallahu a’lam.
Saturday, 25 April 2020
Rahasia Ibadah Puasa dan Pemimpin
Friday, 10 April 2020
Inilah 9 Amalan Penolak Bala'
"Ya Rabbana jangan uji kami diluar batas kemampuan kami (QS Al Baqoroh 286).
2. Kesungguhan Taqwa.
"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya... Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS Ath Tholaq 2-4)
3. Ridho orang tua, “Keridhaan Tuhan ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Tuhan ada pada kemurkaan orang tua” (HR Tirmidzi).
4. "Sedekah itu menolak bala" demikian sebuah bunyi hadits dari Rasulullah.
5. Banyak Istighfar, "Kami tidak akan turunkan adzab bencana selama mereka masih beristighfar" (QS Al Anfal 33).
6. Silturrahmi, “Barang siapa yg senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yg buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)
7. Selalu dzikir dan sholawat, "Petir menyambar kafir juga mu'min tetapi petir tidak akan menyambar orang beriman yang sedang berdzikir,
8. Hobby berbuat baik dan beramal shalih,
هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ
"Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS Ar Rahman 60).
9. Taubat nashuhan, bertaubat sungguh sungguh (QS At Taubah 126).
Semoga Allah senantiasa melindungi kita, keluarga kita dan seluruh kaum muslimin dari berbagai bala' dan bencana... Aamiin
sumber:kabarmakkah.com
Friday, 28 February 2020
11 Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Menurut Habib Umar bin Hafidz
كثرة الاستغفار وتحقيق التوبة النصوح
Perbanyak membaca Istighfar dan bertaubat dengan sebenar benarnya taubat.
العزم الصادق في الإقبال على الله بفعل الطاعات، وترك المعاصي والمخالفات.
Kesungguhan di dalam mengejar ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan ketaatan, dan meninggalkan kemaksiatan yang dilarang Allah.
النظر في أحواله وإصلاحها وإقامتها على منهج المتابعة للنبي محمد صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم
Menginterospeksi keadaan dirinya kemudian memperbaikinya serta membangun kehidupannya di atas peneladanan Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa ala alihi wa sohbihi wa sallam.
تفقُّد شأنه في الفرائض وكيفية أدائها وسننها ورواتبها وحضور القلب فيها.
Memperhatikan keadaan dirinya dalam menjalankan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya secara detail dan di dalam menjalankan sunnah-sunnah serta rawatib, dan memperhatikan kehadiran hatinya di dalam menjalankan semua itu.
الحرص على الصف الأول في الجماعة، والحرص على التكبيرة الأولى مع الإمام فلا تفوته.
Berusaha untuk selalu shalat berjamaah di shaf pertama dan berusaha untuk selalu mendapatkan takbiratul ihram setelah imam.
أن يتفقد نفسه في القرآن ونصيبه من تلاوته وتدبره، والحرص على العمل بما فيه.
Hendaknya memiliki saham yang besar di dalam membaca Al-Quran, mentadabburi ayat-ayatnya, serta dalam mengamalkan tuntunannya.
المحافظة على الأذكار في الصباح والمساء وبعد الصلوات، وفي الأحوال المختلفة.
Merutinkan pembacaan dzikir di pagi dan sore hari dan dzikir seusai shalat lima waktu.
أن يتفقَّد نفسه في المعاملة مع الأهل والأصحاب والأصدقاء والأقارب والجيران، ومع عامة الخلق وخاصتهم.
Memperhatikan dirinya dalam bergaul yang baik dengan rumah tangga, sahabat, teman, keluarga, tetanggga dan kepada seluruh mahluk.
صيام ما تيسر من أيام الشهر، وخصوصا الاثنين والخميس والأيام البيض.
Berpuasalah di bulan ini, khususnya dihari Senin dan Kamis, dan juga di Ayyamul Bhidh (13, 14, 15 di bulan Hijriah).
أن يكون له نصيب من الصدقات والتفقُّد للفقراء والمساكين، والإحسان إليهم.
Hendaknya memiliki saham besar dalam bersedekah dan memenuhi hajat orang-orang faqir dan miskin, dan berbuat baik kepada mereka.
اغتنام هذه الليالي في العبادة، خصوصا وقت السحر، فينبغي في مثل هذا الشهر أن يكون له حال حسن في المعاملة مع السحر، ليدخل في دائرة من أثنى عليهم الرب الأكبر في القرآن بالاستغفار في الأسحار، قال تعالى ( وبالأسحار هم يستغفرون) وقال سبحانه وتعالى: ( والمنفقين والمستغفرين بالأسحار ) وقال تعالى ( إنهم كانوا قبل ذلك محسنين كانوا قليلا من الليل ما يهجعون وبالأسحار هم يستغفرون ).
Hendaknya mengambil kesempatan emas dimalam malam bulan rajab ini untuk beribadah, khususnya di waktu akhir malam, maka alangkah baiknya jika di bulan ini kita berada di dalam keadaan yang mulia disaat akhir malam.
Kami memohon kepada Allah untuk memberikan bagian besar dari kemuliaan malam-malam bulan yang mulia ini, dan menjadikan kita dari hamba-hamba yang diterima ibadahnya dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Monday, 10 June 2019
Pemimpin yang Memperdulikan Sholat Kaum Muslimin
Dalam Islam seorang pemimpin bertanggungjawab tegaknya syariat Islam di wilayah kepemimpinannya. Kepeduliannya terhadap tegaknya syariat akan memberi pengaruh kuat bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan para pemimpin modern yang memasukka urusan sholat dan ibadah lainnya hanya pada urusan privat. Pemimpin tidak berhak intervensi dalam masalah sholat dan iabdah lainnya. Perannya hanya sebatas memberikan kebebasan beribadah kepada agama apapun. Paradadigma seperti ini adalah dampak dari sekulerisme yang menaruh agama pada wilayah privat.
Dalam urusan shalat jamaah misalnya, masyarakat Islam akan lebih peduli dengan shalat jamaah bila ada keteladanan dan perhatian khusus dari seorang pemimpin. Kondisi seperti ini menjadi alasan kuat mengapa perhatian para salafus shalih terhadap shalat jamaah begitu kuat. Sebagai contoh kita dapati Amirul Mukminin Umar bin Khaththab mengancam akan memberikan hukuman bagi siapa yang meninggalkan shalat.
Tsabit bin Al-Hajjaj berkata, “Suatu ketika, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar hendak melaksanakan shalat. Lalu ia menghadap orang-orang dan memerintahkan muazin. Ia berdiri seraya berkata, ‘Demi Allah, tidak ada seorang pun yang kita tunggu lagi.’ Tatkala ia selesai shalat, ia kembali menghadap orang-orang kemudian berkata, ‘Mengapa banyak orang yang meninggalkannya (shalat berjamaah), sehingga yang lain ikut-ikutan meninggalkannya? Demi Allah, sungguh aku berniat mengirim utusan kepada mereka untuk menebas leher mereka!’ Lalu dikatakan, ‘Hadirilah shalat jamaah’.” (Kanzul ‘Ummâl: VIII/252)
Demikian pula Umar Al-Faruq menginspeksi orang-orang dalam shalat jamaah. Imam Malik meriwayatkan dari Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Hatsmah bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah mencari Sulaiman bin Abi Hatsmah ketika shalat Subuh. Keesokannya, Umar bin Khaththab pergi ke pasar sedangkan tempat tinggal Sulaiman bin Abi Hatsmah terletak di antara pasar dan masjid Nabawi. Ketika ia melintas di hadapan Asy-Syifa’, ibu Sulaiman, ia berkata padanya, “Aku tidak melihat Sulaiman ketika shalat Subuh tadi.” Ibunya lantas menjawab, “Tadi malam, ia shalat sepanjang malam lalu tertidur lelap.” Umar kemudian berkata, “Shalat Subuh berjamaah lebih kusukai daripada aku shalat malam semalam suntuk.”(Al-Muwaththa’: I/131)
Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Hasyim bahwa bapaknya berkata, “Suatu ketika, Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mencari seseorang yang tidak hadir dalam shalat Subuh. Kemudian ia mengirim seorang utusan kepadanya. Tatkala orang tersebut dihadapkan, ia berkata, ‘Di mana saja engkau?’ Orang tersebut menjawab, ‘Aku sedang sakit. Sekiranya bukan utusanmu yang membawaku kemari, niscaya aku tidak keluar.’ Umar lalu berkata, ‘Jika engkau mampu keluar untuk menemui seseorang, maka keluarlah untuk shalat.’ (Al-Mushannaf: I/344-345)
Perhatian Al-Faruq terhadap shalat jamaah tampak pula tatkala ia menyuruh seseorang untuk menuntun orang yang buta supaya ia tetap datang ke masjid. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Al-Miswar bin Makhramah berkata, “Suatu ketika, Umar radhiyallahu ‘anhu pergi ke rumah Sa’id bin Yarbu’ untuk menghiburnya lantaran matanya buta. Ia kemudian berkata, ‘Jangan engkau tinggalkan shalat jamaah di masjid Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam,’ Sa’id menjawab, ‘Tapi aku tidak mempunyai seorang penuntun.’ Umar kembali berkata, ‘Kalau begitu, kami akan mengirim seorang penuntun kepadamu.’ Maka dikirimlah seorang hamba sahaya dari tawanan kepadanya.”(Kanzul ‘Ummâl: VIII/307)
Kita dapati pula riwayat tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang berjalan seraya berseru, “Shalat, shalat.” Ia bermaksud membangunkan orang-orang untuk shalat Subuh. Ia melakukan hal itu setiap hari. Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu bercerita kepada kami tentang keluarnya Ali pada hari ketika ia ditikam. Ia berkata, “Tatkala ia keluar dari pintu, ia berseru, ‘Wahai sekalian manusia! Shalatlah, shalatlah’.” Demikianlah yang dilakukannya setiap hari. Ia keluar membawa cemetinya seraya membangunkan orang-orang. Kemudian ia dihadang oleh dua orang …. (Ath-Thabaqât Al-Kubra: III/36-37)
Sedangkan amir Mekah yang diangkat oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ‘Attab bin Usaid Al-Umawi radhiyallahu ‘anhu mengancam akan membunuh siapa pun yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa ia pernah berbicara kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah! Demi Allah, tidak ada kabar yang sampai kepadaku bahwa salah seorang dari kalian meninggalkan shalat jamaah di masjid, kecuali aku akan membunuhnya.” (Kitab Ash-Shalâh hal. 81. Lihat juga Ghâyatul Marâm bi Akhbâri Sulthanati Al-Baladil Harâm: I/18-19). Imam Ibnul Qayyim menuturkan, “Para shahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berterima kasih kepadanya atas tindakannya tersebut dan kemuliaannya semakin bertambah di mata mereka.” (Kitab Ash-Shalâh hal. 81)
Demikianlah salah satu alasan mengapa syariat Islam menaru perhatian besar dalam memilih pemimpin. Sebab, keberadaannya tidak hanya berfungsi menyelesaikan problem masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan di dunia. Tapi lebih dari itu, seorang pemimpin juga bertanggungjawab membawa rakyatnya untuk meraih kebahagian di akhirat kelak.
Sumber: Buku “Fadhilah shalat berjamaah” Karya Fadhl Ilahi, Penerbit; Aqwam Solo